Jewawut, Pangan Bergizi yang Terabaikan

               Jewawut (foto: istimewa)

Penulis: SRI ENDANG SUKARSIH *

MAKASSARDAILY. Jawawut atau Sekoi (Setaria Italica) adalah sejenis serealia berbiji kecil (milet) yang pernah menjadi makanan pokok masyarakat Asia Timur dan Asia Tenggara sebelum ada budidaya padi. Tumbuhan ini pertama kali dibudidayakan di antara berbagai jenis milet dan sekarang menjadi milet yang terluas penanamannya di seluruh dunia, terutama di Asia Timur. 

Di Indonesia, jewawut tumbuh dan berkembang hampir di semua wilayah. Di setiap daerah jewawut memiliki nama lokal yang sebagian besar berbeda-beda.

Menurut Forum Kerjasama Agfro (2011), millet adalah bahan pangan manusia, dan juga pakan ternak. Nama millet, tidak terkait dengan genus atau spesies tumbuhan, melainkan dengan sekelompok tumbuhan penghasil biji-bijian kecil (serealia kecil). Dari beberapa sub famili dalam famili rumput-rumputan (poaceae).

Salah satu millet paling populer di Indonesia adalah jewawut (setaria italica), yang juga disebut  foxtail millet, italian millet, german millet, chinese millet, atau hungarian millet. Jewawut sudah dibudidayakan di China sejak 6000 tahun SM, dan sekarang menjadi tanaman biji-bijian yang cukup populer di Asia Tenggara.

Di China dan Korea, millet adalah bahan pangan penting. Masyarakat di sini sudah membudidayakan millet sejak sekitar 7.000 tahun SM, jauh lebih awal sebelum mereka membudidayakan padi. 

Di Indonesia Jewawut sebenarnya sudah lama dibudidayakan. Namun tidak terlalu dikenal sebagai bahan pangan manusia, tetapi lebih dikenal sebagai pakan burung. Jewawut sebagai makanan burung perkutut, tekukur, puter, parkit, maupun burung pemakan biji lainnya.

Di  masyarakat adat Kaluppini Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, jewawut dikenal dengan nama Ba’tang. Jewaut bagi masyarakat Kaluppini menjadi tanaman penting karena masakan dari jewawut menjadi salah satu panganan pelengkap kegiatan ritual adat.

Mengapa Jewaut Terabaikan? 

Perubahaan pola pikir dan desakan peradaban baru, membuaat jewawut direkonstruksi sebagai makanan zaman dulu. Makanan burung, atau sesuatu yang bersifat udik/kampungan. 

Kehadiran beras secara besar-besaran menjadi makanan peradaban, bahkan menjadi komuditi utama ketahanan pangan. Sementara faktor lain adalah minimnya sosialisasi dan informasi tentang konsumsi pangan lokal.

                                                               Biji jewawut  foto:istimewa 

Dilestarikan Masyarakat Adat Kaluppini

Masyarakat Adat Kaluppini di Enrekang, Sulawesi Selatan menjadikan ba’tang (jewawut) salah satu makanan wajib dan syarat utama dalam ritual adat setiap tahunnya (identitas budaya). Di Kampung Tondon, Ranga dan Kaluppini, ritual Maccera Manurung–syukuran panen dan penghormatan kepada leluhur–dilakukan setiap delapan tahun sekali. Penduduk mengunjungi situs megalitik di tempat tertentu dan makan bersama. Dalam ritual ini, salah satu makanan wajib dan syarat utama adalah ba’tang atau jewawut.

Nani Somba, peneliti dari Balai Arkelogi Makassar yang pernah melakukan penelitian mengenai Maccera Manurung mengatakan, menghadirkan ba’tang sebagai salah satu pangan utama dalam ritual menunjukkan budidaya tanaman telah dilakukan sejak lama di Kaluppini.

Ba’tang merupakan tanaman yang dibawa gelombang migrasi Austronesia sekitar 3.000 tahun lalu. Jewawut wasuk melalui jalur migrasi masyarakat Tiongkok yang mencapai Sulawesi. Teori ini disebut migrasi kereta cepat atau dikenal dengan Out of Taiwan.

Masarakat Kaluppini melakukan proses budidaya jewawut dengan mekanisme adat yang unik. Bibit ba’tang yang siap ditabur, pada malam atau subuh hari akan diletakkkan di posi bola (tiang tengah rumah) oleh perempuan, beserta pinang, sirih, dan kapur. Pada pagi hari, laki-laki membawa bibit itu ke  ladang dan menaburkan.

Eksistensi Ba’tang di Enrekang

Di masyarakat Enrekang, sebelum beras meluas dekade 1960-an, ba’tang dan jagung adalah makanan pokok warga. Dahulu menjadi makanan utama, dikonsumsi seperti nasi atau bubur, bisa juga jadi sokko  (masakan ketan) dan dimakan dengan lauk, sayur dan ikan. Jenis-jenis di Enrekang antara lin disebut panasa, putti, doi, rui, baraka, beuwa, dan minya.’ Saat ini, ba’tang yang ditanam warga adalah jenis beuwa karena lebih mudah tumbuh.

Masyarakat Kaluppini cenderung meninggalkan ba’tang baraka, karena memiliki beberapa pantangan seperti saat menanam dan hasil tidak mencapai 40 basse (40 ikat, satu ikat sekitar empat sampai lima liter), petani akan mendapatkan malapetaka. Itulah ritual yang dilakukan selain ungkapan syukur juga permintaan maaf lewat mancera manurung.

Selain dijadikan baje (wajik), ba’tang biasa dimasak untuk pesta setelah upacara adat. Ada 13 ritual adat setiap tahun di Kaluppini. Sehabis upacara adat selalu ada makan olahan lain, selain wajik.

                                                           Beras Jewawut  foto: istimewa

Kadar Gizi

Kadar protein jewawut lebih tinggi dari beras. Jewaut bisa mencapai 13%, sedangkan padi hanya 8%-10%. Jewawut memiliki antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker dan menurunkan kadar gula darah. Kandungan kalsiumnya juga cukup tinggi dibanding padi, sorgum ataupun jagung.

Menurut Marthen P. Sirappa, dkk (2014), kandungan karbohidrat jewawut mendekati beras (75%), namun kandungan proteinnya lebih tinggi (11%) dari beras (7%), terutama protein gluten. Jewawut mengandung beragam komponen penting yang berpotensi meningkatkan kesehatan tubuh, antara lain senyawa antioksidan, senyawa bioaktif, dan serat, sehingga sangat potensial sebagai salah satu bahan diversifikasi pangan.

Nilai ekonomi jewawut sebagai pangan lokal cukup baik. Harga ba’tang tahun 2017 di Enrekang, cukup mahal Rp 28.000 – Rp 40.000 per liter, dibandingkan beras Rp 8.000 per liter. 

Budidaya Jewawut

Jewawut dapat ditanam di daerah semi kering dengan curah hujan kurang dari 125 mm. Selama masa pertumbuhan yang pada umumnya sekitar 3-4 bulan tanaman ini bisa dipanen.

Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan dan rentan terhadap periode musim kering yang lama. Di daerah tropis, tanaman ini dapat tumbuh pada daerah semi kering sampai ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut (dpl).

Tanaman ini menyukai lahan subur dan dapat tumbuh baik pada bebagai jenis tanah, seperti tanah berpasir hingga tanah liat yang padat. Bahkan tetap tumbuh pada tanah miskin hara atau tanah pinggiran.

Teknik budidaya tanaman jewawut dapat dilakukan dengan sistem olah tanah baik sistem olah tanah konvensional (yang menggunakan guludan/bedengan) maupun sistem olah tanah minimum (pada tanah yang subur atau gembur). Selain itu juga dengan sistem tanpa olah tanah. Prinsip dari sistem olah tanah konvensional (guludan atau bedengan) adalah mengolah tanah secara keseluruhan, yaitu dengan cara manual dan menggunakan cangkul atau linggis kemudian membongkar dan membalik tanah lalu diratakan. 

Tanah yang telah bersih kemudian dibentuk guludan atau semacam bedengan. Guludan adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Tinggi tumpukan tanah sekitar 25–30 cm dengan lebar dasar sekitar 30–40 cm. Guludan dapat diperkuat dengan menanam rumput atau tanaman perdu (Chairani, 2010).

Jewawut dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lain seperti padi gogo. Tanaman jewawut berumur lebih cepat sekitar satu bulan dari padi karena berumur 3 bulan, sehingga jewawut tergolong lebih hemat menggunakan air dari pada padi dan jagung. 

Sedangkan jewawut yang ditanam sisipan dengan tanaman jagung memiliki umur panen yang bersamaan dengan jagung. Penanamannya dapat dilakukan di lahan maupun di dalam green house

Benih jewawut tidak disemaikan tetapi dapat langsung di tanam pada suatu media tanam ataupun lahan penanaman dengan cara ditaburkan atau ditanam dalam lubang tanam. Jarak tanam yang cocok untuk tanaman jewawut pada luas areal 2 x 3 meter adalah 75 x 20 cm atau 70x 25 cm. Kebutuhan benih 8-10 kg/ha apabila jenis yang ditanam hanya juwawut

                                                        Bubur Jewawut   foto: istimewa

Kesimpulan dan Saran

Jewawut selain pangan local, juga bermanfaat untuk kesehatan dan memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan serta mampu menahan laju erosi. Jewawut mudah ditanam sebagai tanaman sela ataupun di bedengan/pagar, tidak manja dan tidak harus di tempat yang tinggi.

Karena itu, pemerintah dan masyarakat perlu mendorog pembudidayaan pangan lokal ini menjadi salah satu komoditi pangan alternatif selain beras. Apalagi nilai gizi jewawut  melebihi beras sebagai bahan pangan karbohidrat utama. Jewawut menjadi salah satu potensi penting dalam menopang ketahanan dan kedaulatan pangan kita. 


Ir. Sri Endang Sukarsih, MP, birokrat pemerintahan di Pemrov Sulawesi Selatan, partisipan kegiatan di berbaga organisasi masyarakat sipil, aktif di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulawesi Selatan.

Tulisan ini pernah disampaikan dalam salah satu webinar dengan topik pangan lokal dan pandemi Covid-19.  

0 Comments