Ekonomi Keluarga dan Siasat Utang Di Pulau Lae-Lae

Dokumentasi Jurnal Celebes.

Pulau Lae-Lae merupakan pulau kecil berpenghuni yang terletak di Kelurahan Lae-Lae, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau ini dihuni sekitar 2000 jiwa yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan. Kita dapat mengunjungi pulau ini melalui Dermaga Kayu Bangkoa yang bersebelahan dengan Pantai Losari, menggunakan kapal penumpang atau dalam bahasa lokal disebut pappalimbang. Biasanya satu kapal pappalimbang yang menuju Pulau Lae-Lae memuat penumpang sekitar 5-8 orang dengan waktu tempuh sampai kurang lebih 10 menit. Sebagian besar pappalimbang atau pengemudi kapal penumpang di Dermaga Kayu Bangkoa merupakan masyarakat lokal Pulau Lae-Lae.


Aktivitas pappalimbang sangat berpengaruh terhadap ekonomi Pulau Lae-Lae. Setiap harinya masyarakat pulau dan wisatawan selalu menggunakan pappalimbang. Banyaknya pengunjung pulau sangat berpengaruh terhadap ekonomi pulau karena satu-satunya alternatif yang digunakan untuk menuju pulau yaitu perahu pappalimbang. Dengan begitu penghasilan yang mereka dapatkan akan sesuai dengan banyaknya orang yang ingin mengunjungi pulau. Selain nelayan, sebagian besar masyarakat pulau menggantungkan hidupnya bertahan hidup dari penghasilan yang didapatkan dari profesi sebagai pappalimbang.


Masyarakat di Pulau Lae-Lae yang berprofesi sebagai nelayan sangat bergantung dengan laut, ada saat dimana mereka tidak bisa melaut akibat cuaca ekstrem seperti gelombang yang terlalu tinggi atau angin yang sangat kencang pada musim barat. Hal ini memang sudah sewajarnya sebagaimana karakteristik masyarakat yang berada di dekat laut. Hanya saja, sumber daya laut tidak menentu tergantung musim dan cuaca, alhasil tangkapan ikan relatif tidak pasti dan nelayan pun harus memperluas wilayah tangkapannya agar tidak pulang dengan sia-sia.


Tidak ada jaminan bahwa setiap melaut mereka akan mendapat hasil tangkapan. Jika cuaca ekstrem, mereka terpaksa tidak melaut, yang berarti tidak ada pendapatan pada saat itu. Kebutuhan hidup yang harus dipenuhi setiap harinya tentu tidak bisa hanya bergantung pada penghasilan sebagai nelayan. Kondisi inilah yang menyebabkan perempuan–dalam hal ini istri nelayan mengambil peranan penting untuk membantu perekonomian keluarga. Salah satunya kita bisa menemukan istri-istri nelayan membuka warung-warung kecil dan menjual berbagai macam jenis makanan dan minuman. Selain itu umumnya kebiasaan masyarakat pulau untuk memenuhi kebutuhan pokok dan keinginan konsumtif keluarga adalah dengan meminjam uang atau berutang.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), utang merupakan uang yang dipinjam dari orang lain, sedangkan berutang merupakan kata kerja yang menjelaskan seseorang yang mempunyai utang. Masyarakat pulau menganggap bahwa utang merupakan solusi dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan sehari-hari. Bahkan dari apa yang saya lihat, memiliki utang bagi masyarakat pulau adalah hal yang normal. Masyarakat pulau lebih dominan menyelesaikan permasalahan utangnya dengan cara dicicil karena faktor pendapatan yang tidak menentu. Dalam hal ini peran istri dalam mengatur keuangan rumah tangga sangatlah berpengaruh.


Siang itu matahari terasa begitu terik membuat kulit terasa terbakar sehingga keringat bercucuran seolah menyambut kedatangan saya di Pulau Lae-Lae. Bersama dengan teman, kami menyeberangi laut menggunakan pappalimbang. Dengan cuaca yang cukup terasa panas kami berjalan menyusuri pemukiman masyarakat. Kami sesekali berhenti sejenak untuk beristirahat dan menghela nafas sejenak sambil membeli jajanan yang dijual oleh masyarakat. Di Pulau Lae-Lae sangat banyak penjual yang menyajikan beranekaragam jenis makanan dari makanan ringan, hingga makanan berat. Begitu juga dengan minuman kemasan, beranekaragam jenis minuman yang mereka jual dengan harga yang terbilang cukup murah.


Kami bertemu dengan salah satu masyarakat yang akrab disapa Dg Bau. Beliau merupakan istri  dari Bapak Dg Bonto yang berprofesi sebagai pappalimbang. Kami memperkenalkan diri terlebih dahulu kemudian menjelaskan bahwa maksud kedatangan kami di sini yaitu untuk mengetahui bagaimana perekonomian masyarakat Pulau Lae-Lae.


Tidak lama kemudian Dg Bau bercerita “Kalau suami saya itu sampai hari ini tidak pernah berubah tetap bersih 300 ribu,” Kata Dg Bau. Penghasilan yang didapatkan tiap hari diberikan kepada sang istri secara bertahap.


“Uang itu diberikan langsung ke tante tapi bukan satu kali cash. Seperti jam 12 siang suami datang bawa 150 ribu dan malam 150 ribu,” Lanjut Dg Bau menjelaskan. Siang itu Dg Bau menggunakan uang yang diberikan oleh suaminya untuk membeli makanan dan bumbu dapur lalu memberikan uang belanja kepada anaknya. Suami Dg Bau memiliki pekerjaan lain yaitu servis kapal yang biasanya dihubungi untuk perbaikan kapal-kapal Pelni di pelabuhan.


Di Pulau Lae-Lae pinjam meminjam sepertinya sudah mengakar menjadi budaya. Contohnya pedagang keliling setiap paginya mendatangi rumah-rumah masyarakat menawarkan jualannya seperti gorengan dan kue-kue. Mereka biasanya menyimpan jualannya di rumah masyarakat tanpa mengharap dibayar diawal. “Minimal 10 ribu mereka taruh sore datang lagi kalau ada uang dibayar, kalau tidak bisa dibayar besok. Karena kita kan disini juga sudah satu keluarga,” Lanjut Dg Bau.


Sistem utang di pulau selain meminjam dengan tetangga terdekat ada juga yang meminjam dengan rentenir. Contohnya meminjam dengan dana yang terbilang besar mereka menggunakan kesepakatan lain seperti harus ada kesepakatan yang bertanda tangan di atas materai dan ada berbagai macam sistem pelunasan yang biasanya dilakukan. Ada yang setiap hari, setiap minggu dan  setiap bulan tergantung dari kesepakatan. Dg Bau merupakan istri yang tidak terlalu mengatur keuangannya dan dia menganggap dirinya sebagai orang yang boros.


“Kalau keuangan, saya tidak terlalu atur karena kita disini kalau anak kita minta dikasih. Bukan bahwa kau cukup dua kali sehari, kalaupun 10 kali dikasi terus. Jadi nda terlalu teratur,” kata Dg Bau.


Dg Bau juga tidak memiliki kebiasaan menabung di bank karena dia merasa kerepotan apabila ingin mengambil uangnya. “Kalau saya tidak. Malas saya menabung-menabung begitu. Saya berpikir kalau saya mau belanja saya harus ke Makassar lagi tarik uang di ATM. Karena kalau tarik di sini mahal biaya tariknya,” Ucap Dg Bau.


Dg Bau juga bercerita bahwa di Pulau Lae-Lae juga ada perkreditan dari bank dan kebanyakan di Pulau Lae-Lae itu merupakan nasabah dari bank BRI. Dg Bau juga merasa cukup dengan penghasilan yang telah diberikan oleh suaminya dan dia juga biasa berjualan dan terkadang membuka warung makan.


Kebutuhan keuangan mendesak yang pernah dialami yaitu pada saat sedang sakit. Dg Bau meminjam uang kepada keluarga untuk kebutuhan biaya rumah sakit karena pada saat itu dana yang mereka punya tidak mencukupi untuk kebutuhan rumah sakit “Terkadang itu saya pinjam kalau misalnya mau ke rumah sakit. Tiba-tiba tidak ada uang di rumah,” kata Dg Bau. “Biasa kita ke keluarga atau ke rentenir,” Lanjut Dg Bau. Begitulah cara Dg Bau sebagai istri mengatur keuangan keluarga.


Berbeda dengan Ibu Samsinar, istri dari Bapak Munir yang juga berprofesi sebagai pappalimbang yang memiliki 3 orang anak. Penghasilan setiap hari yang didapat oleh suaminya terbilang tidak menentu. “Biasa dapatnya 200 ribu kotor bersihnya 150 ribu. Tergantung rezeki tidak menentu,” kata Ibu Samsinar. Biasanya Ibu Samsinar menggunakan uang yang diberikan oleh suaminya untuk memenuhi kebutuhan dapur dan untuk biaya transportasi sekolah anaknya “Kalau umpama ada rezeki lebih kita sisipkan memang dulu untuk bahan pokok dapur,” Kata Ibu Samsinar. “Siapkan berasnya semua kebutuhan dapur kalau ada rezeki lebihnya bapak,” Lanjut Ibu Samsinar.


Ibu Samsinar lebih memilih berinvestasi apabila ada rezeki berlebih yang diberikan oleh suaminya. Ia tidak menjadikan utang sebagai solusi apabila ada kebutuhan yang harus dibayar.  “Kalau ada rezeki lebihnya bapak belika biasa emas,” Kata Ibu Samsinar. “Kalau kebetulan tidak adami lagi uang ku itumi lagi ku jual,” Lanjut Ibu Samsinar. Ibu samsinar lebih memilih berinvestasi dan menjual kembali emasya apabila dia membutuhkan uang daripada pergi untuk berhutang. Begitulah cara Ibu Samsinar dalam mengatur keuangan. Dengan tidak boros berbelanja dan memilih untuk melakukan investasi yang dimana nantinya bisa dia jual kembali dengan harga yang lebih tinggi apabila membutuhkan uang.


Utang dan Pengelolaan Keuangan


Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengelola keuangan keluarganya. Terutama istri yang sebisa mungkin mengatur keuangan keluarga agar tercukupi dan tidak merasa kurang. Berbeda dengan Ibu Hasna yang merupakan istri dari Bapak Hasan yang bekerja sebagai nelayan. Ibu Hasnah merupakan ibu rumah tangga. Kebiasaan Ibu Hasna di pagi hari yaitu membuat air panas kemudian mengerjakan pekerjaan rumah seperti ibu rumah tangga pada umumnya “Pagi itu masak air panas, baring-baring sudah itu mencuci sampai jam satu,” Ucap Ibu Hasnah. Pekerjaan rumah bisanya dibantu oleh anaknya, ada yang bertugas memasak dan ada yang melipat pakaian.


Suami Ibu Hasna sudah lama tidak melaut lagi karena tidak ada umpan yang mereka punya. Umpan yang mereka gunakan yaitu ambaring yang biasanya ada di musim hujan. Suami Ibu Hasna biasanya pergi melaut di Pulau Kodingareng dengan modal awal yang mereka perlukan sekitar 300 ribu untuk membeli umpan, bensin, dan rokok. Biasanya suami Ibu Hasna berangkat dari jam enam subuh sampai jam enam sore. Hasil tangkapan yang didapat oleh suami tidak menentu. Apabila hasil tangkapan hari ini banyak maka mereka akan jual ke pelelangan ikan. Apabila hasil tangkapan sedikit biasanya mereka hanya jual di rumah  “Kalau biasa dapat tiga keranjang ku jual di sini ji, salah-salah kalau dibawa ke lelong,” ucap Ibu Hasna. Penghasilan suaminya juga terbilang tidak menentu “Satu kali untung tiga kali rugi” ucap Bapak Hasan. “Kalau satu kali keluar itu dapat lima ratus diluar bensin tiga ratus ribu” Lanjut Ibu Hasna.


Ibu Hasnah sabagai seorang istri menganggap bahwa penghasilan suaminya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari hari keluarganya. Jadi Ibu Hasnah biasanya berutang dengan tetangga untuk membeli kebutuhan pokok keluarganya “Biasanya utang ka beli beras perbulan,” Kata Ibu Hasna. Selain kebutuhan pokok Ibu Hasnah juga berutang untuk kebutuhan lainnya seperti baju. Ibu Hasna pernah berutang kepada tetangganya yang berjualan baju. Ibu Hasnah membeli baju dagangannya dengan sistem pelunasan yaitu dicicil “Kadang lewat ki kalau kebetulan ada uangku ku kasi. Belumpi lunas masih ada lima puluh ribu ambilka lagi,” kata Ibu Hasna. Ibu Dirinya tidak memiliki kebiasaan menabung karena merasa tidak cukup untuk kebutuhan sehari harinya.


Ibu Hasna juga mengambil uang di bank untuk keperluan perahu suaminya “Dulu ambilka lima juta beli mesin” Kata Ibu Hasna. Proses pelunasan utang Ibu Hasna di bank dengan cara dicicil selama kurang lebih 4 tahun dan ada juga pengeluaran yang harus dikeluarkan tiap bulannya. Pekerjaan sampingan suaminya biasanya menjadi tukang parkir “Biasa naiki di tanjung tapi sekarang tidak mi,” Kata Ibu Hasna.


Penghasilan yang didapat oleh suaminya juga tidak menentu. “Dua ratus ribu biasa,” Kata Ibu Hasna. Biasanya setiap hari rabu suamiya pergi ke tanjung kemudian malam senin pak Hasan akan dijemput lagi oleh anaknya. “Biasa dua setengah di amplopnya. Ku bayarmi utang ku 100, beli beras,” Ucap Ibu Hasna. Biasanya Ibu Hasna juga memberikan uang kepada cucunya untuk berbelanja dan kebutuhan lainnya “Pergi mengaji minta uang. Karena berdua jadi sepuluh ribu.  Pulang mengaji minta uang lagi,” Lanjut Ibu Hasna.


Walaupun sudah punya rumah sendiri, anaknya masih sering datang berkumpul di rumah Ibu Hasna bersama dengan cucunya. Ibu Hasnah memiliki lima orang anak, tiga diantarnya sudah bekerja ada yang bekerja di salah satu gudang di wilayah Salodong pada bagian produksi. Ada juga yang bekerja di bagian pengemasan dan ada yang meneruskan pekerjaan suaminya yaitu menjadi nelayan cumi-cumi. Ada juga yang membuka usaha kecil-kecilan di depan rumah Ibu Hasna yang menjual berbagai macam minuman ringan dan cemilan lainnya.


Banyaknya orang yang berjualan di pulau mengakibatkan penghasilan yang mereka dapatkan tergantung banyaknya pembeli pada hari itu. “Dua puluh ribu na dapat kemarin. Biasa lebih seratus, dua ratus, tiga ratus sampai malam,” Kata Ibu Hasna. Selain minuman, ada juga makanan yang dijual oleh anaknya salah satunya yaitu roti bakar dan sebagian upah anaknya diberikan kepada Ibu Hasnah untuk membeli kebutuhan rumah. Begitulah gambaran aktivitas ekonomi keluarga Ibu Hasna dan Bapak Hasan.


Fenomena utang di Pulau Lae Lae, sekarang telah menjadi kebiasaan karena masih minimnya literasi keuangan dan gaya konsumtif masyarakat yang tinggi. Hal ini berkaitan dengan studi Renita dan Hidayat (2013) yang berfokus pada faktor-faktor psikologis dalam kaitannya dengan perilaku berutang. Dimana temuan penelitian ini menunjukkan bahwa apakah seseorang berutang atau tidak berutang lebih dipengaruhi oleh lingkungan normatifnya daripada kebutuhan dirinya sendiri. 


Faktor Pengelolaan keuangan adalah faktor yang sangat penting dalam literasi keuangan. jika pengelolaan keuangan baik maka literasi keuangan juga akan baik karena faktor pengelolaan sebagai faktor pemahaman mengenai literasi keuangan dan bentuk penilaian literasi keuangan dapat dilihat dari bagaimana seseorang mengelola keuangannya sehari-hari. Dengan mengeluarkan biaya untuk kebutuhan dan tidak terlalu mengarah ke keinginan konsumtif.


Faktor pendapatan juga termasuk karena besar kecilnya pendapatan sangatlah berpengaruh dalam mempermudah pengelolaan keuangan. Pengelolaan keuangan meningkat maka literasi keuangan ikut meningkat seperti yang diungkapkan oleh Yoong F.J (2012), pendapatan berpengaruh terhadap literasi keuangan.


Menurut saya disinilah pentingnya bagi masyarakat untuk bisa mengelola keuangan rumah tangganya dengan menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang diperoleh. Bagaimana mereka menjadi lebih paham dengan cara pengelolaan keuangan dengan diberikannya pelatihan oleh pemerintah untuk menunjang pengetahuan masyarakat terkait literasi keuangan. Dengan begitu diharapkan masyarakat bisa menerapkannya dalam pengelolaan keuangan rumah tangga di kehidupan sehari-hari. Pemahaman tentang literasi keuangan keluarga juga dapat mengurangi masyarakat yang terjerat utang baik dalam nominal kecil maupun besar. Kenyataannya utang sepertinya telah menjadi solusi jangka pendek bagi sebagian besar masyarakat di Pulau Lae-Lae.

 

Andi Putri Nadilah

Mahasiswa Magan MBKM-Perkumpulan Jurnal Celebes

Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Universitas Fajar.


0 Comments