Dokumentasi Jurnal Celebes.

Tallo adalah salah satu kelurahan di wilayah administratif Kecamatan Tallo Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Kelurahan Tallo memiliki luas sekitar + 0,61 KM dan terdiri dari 26 RT dan 5 RW.  Dikutip dari buku Nama Rupa Bumi Kota Makassar, jumlah penduduk di Kelurahan Tallo pada tahun  2019 tercatat 8.286 jiwa yang terdiri atas 4.132 jiwa laki laki dan 4.154 jiwa perempuan. Kelurahan Tallo berasal dari kata “Tallo” yang artinya telur (bahasa Bugis). 

Sejak abad ke-15 wilayah Tallo yang berada di muara Sungai Tallo sudah dikenal sebagai bandar niaga internasional. Masyarakat di sana meyakini bahwa islam pertama kali datang di Sulawesi Selatan titik awal penyebarannya dimulai dari Tallo pada abad ke-16. Seorang ulama dari Minangkabau bernama Datuk ri Bandang mengislamkan raja Tallo Karaeng Matoaya.

Kelurahan Tallo terdiri dari beberapa kampung tua salah satunya adalah Kampung Karabba yang terletak di pesisir Pantai utara Kota Makassar. Di Kampung Karabba kita bisa melihat permukiman padat penduduk yang dibangun di atas laut. Kampung Karabba mendapat pelabelan dari pemerintah sebagai permukiman kumuh pesisir. Salah satu penyebab munculnya permukiman kumuh adalah persoalan sampah yang belum teratasi dengan baik.

Di kampung Karabba masyarakat hidup berdampingan dengan sampah padahal kita tahu bahwa sampah itu sumber dari segala macam penyakit dan potensi terjadinya banjir. Dari hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan beberapa masyarakat, sudah menjadi kebiasaan masyarakat membuang sampah di sekitar pemukiman mereka bahkan ada yang langsung membuangnya ke laut. Praktik kebiasaan buruk membuang sampah memperlihatkan bahwa masih minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengolahan sampah masyarakat berbasis rumah tangga.

Namun, kita tidak boleh menyudutkan masyarakat seolah-olah persoalan sampah di permukiman mereka itu kesalahan mereka sendiri. Pengolahan sampah merupakan tanggung jawab bersama tidak hanya dibebankan kepada Masyarakat. Keterlibatan aktif pemerintah juga menjadi kunci utama untuk membenahi pengolahan sampah di Kampung Karabba. Salah satu contohnya misalnya bagaimana pemerintah aktif memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengolahan sampah di lingkungannya.

Sampah Plastik di Karabba

Dari sekian banyak jenis sampah yang ada di Kampung Karabba sebagian besarnya adalah  sampah plastik. Sampah plastik merupakan semua barang bekas atau tidak terpakai yang materialnya diproduksi dari bahan kimia tak terbarukan. Ini juga tidak terlepas dari penggunaan plastik yang semakin meningkat terutama untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Sampah plastic tentu membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Khususnya di Kampung Karabba karena permukimannya berada di atas laut, maka akan menyebabkan pencemaran air laut yang dapat mengganggu rantai makanan dan membunuh hewan laut, serta akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Sampah plastik membutuhkan ratusan tahun untuk terurai dan jika pengolahannya tidak ditangani dengan serius maka akan terus menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan antar lintas generasi. 

Apakah masalah sampah di Kampung Karabba terkait dengan konteks sosial, budaya dan ekonomi masyarakat? Ataukah program pemerintah dalam penanggulangan sampah belum maksimal? Faktanya adalah sampah-sampah plastik di Kampung Karabba tidak hanya berasal dari rumah tangga masyarakat tetapi juga yang berasal dari sampah kiriman dari arus laut lalu kemudian menumpuk di pemukiman masyarakat. Selain itu, Masyarakat juga mengandalkan jasa pengangkutan sampah setiap harinya. Disisi lain masih kurangnya fasilitas pembuangan sampah di permukiman Masyarakat.

''Sampah dapur saya  saya buang di kolong rumah saya karena petugas sampah walaupun saya sudah membayar uang bulanan tetapi mereka tidak datang mengambil sampah milik saya karena alasan jauh,” kata Ibu Norma yang juga merupakan Ibu rumah tangga yang tinggal lama di kampung tersebut. Ia juga mengatakan bahwa sampah di kampung ini juga bukan cuman kami para warga yang mencemari tetapi kami mendapat sampah kiriman dari berbagai wilayah.

Sampah itu bisa menjadi teman maupun musuh bagi masyarakat itu sendiri. Menjadi teman ketika melihat sampah  menjadi alternatif ekonomi tambahan rumah tangga. Sampah jenis plastik bisa didaur ulang dengan metode dan pengolahan yang tepat menjadi bahan baku, produk jadi, dan kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Sebagai contoh limbah plastik jenis botol dapat diolah menjadi bahan ecobrick, lalu dikembangkan menjadi kursi atau meja. Untuk sampah plastik lainnya bisa dimanfaatkan dalam berbagai bentuk daur ulang menjadi barang bernilai dan layak jual.

Sampah dikatakan sebagai musuh di Kampung Karabba jika tidak diperhatikan atau tidak dipedulikan sehingga memberikan dampak buruk bagi kualitas hidup masyarakat. Uniknya masyarakat di Kampung Karabba terlihat biasa-biasa saja dengan banyaknya tumpukan sampah di sekitar pemukiman mereka. Disinilah pentingnya peranan dari berbagai pihak terkhusus pemerintah setempat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Bukan mencari siapa yang salah atau disalahkan karena kunci utama dalam menyelesaikan masalah sampah di Kampung Karabba adalah kolaborasi dan sinergitas dalam pengelolaan sampah. Tidak ada yang tidak mungkin jika masyarakat sadar dan pemerintah juga serius maka bisa jadi Kampung Karabba yang mendapat pelabelan “ kumuh” kelak menjadi kampung yang bersih indah dan nyaman.

 

Wanda
Mahasiswa MBKM-Perkumpulan Jurnal Celebes
Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Universitas Fajar